Idola
Siapakah idola anda?
Salah satu hal yang selalu dipermasalahkan Bunda adalah, saya sebegitu mengidolakannya seorang Aldi Taher dan Coki Pardede. Kenapa sih idola itu nggak Muhammad Al Fatih, Mardigu, Chairul Tanjung, dan yang semacam itu?
Ini merupakan pertanyaan sederhana yang sangat menarik untuk dibahas.
Jika kita bertanya kepada seseorang atau sebaliknya, “siapa idola kamu?” Maka setelah itu akan dilanjuti : “Kenapa?”. Sehingga keluarlah berbagai argumentasi yang menguatkan nilai dari seorang tokoh yang mereka ceritakan.
Meskipun tidak ada definisi baku terkait idola (karena saya tidak melihat KBBI), masyarakat di sekitar kita biasanya secara tak langsung mendifinisikan bahwa idola merupakan inspirasi hidup, manusia sarat makna, bahkan tanpa cela. Sehingga akan sangat logis ketika kita bertanya siapa idola kamu, jawabannya adalah Rasulullah SAW.
Tapi sadar gak sih kadang-kadang, sejujurnya saya (mungkin juga khalayak umum, mungkin) sering merasa bosan kalau jawabannya Rasulullah SAW (Astagfirullah). Dalam benak kita, seakan-akan itu merupakan jawaban absolut yang antiklimaks, dan akhirnya membuat kita enggan untuk bertanya “kenapa?” meskipun sebenarnya tidak ada salahnya bertanya.
Apa yang salah di sini? Menurut saya definisi idola sebagai inspirasi hidup, dalam masyarakat umum, mulai bergeser menjadi yang namanya “obsesi".
Saya lebih sepakat jika idola itu merupakan obsesi seseorang kepada seorang yang lain, kepada suatu kelompok, atau entitas tertentu. Atau bisa juga manifestasi seseorang karena terobsesi kepada sesuatu yang tidak nampak perwujudannya.
Misal, saya. Idola saya itu adalah Guru Gembul, Coki Pardede, Aldi Taher, dan Mujahid Al Mutaz. Apakah saya terobsesi kepada mereka ber-4? Oh, tentu saja tidak. Mereka ber-4 merupakan manifestasi atas obsesi saya terhadap sesuatu, dan mereka adalah objek terdekat saya untuk mendapatkan hal-hal praktikal dalam memenuhi obsesi saya.
Kenapa saya mengidolakan Mujahid? Apakah ia manusia tanpa cela dan bersih dari dosa? Ya jelas tidak. Soal perempuan, saya sarankan jangan pernah jadikan Mujahid sebagai panutan. Hahaha.
Saya mengidolakan Mujahid, karena ia merupakan jawaban atas obsesi saya yang ingin sekali bisa presentasi dengan baik dihadapan banyak orang. Hal-hal teoritis, praktik di lapangan, sampai template-template ppt seringkali saya (dan kami, #GrupStopNgelemStopHalu) dapatkan.
Saya mengidolakan Guru Gembul juga karena obsesi saya yang sangat ingin sekali bisa berdiskusi. Diskusi yang penuh dengan argumentasi-argumentasi ilmiah, untuk menjawab hal-hal umum di masyarakat. Sederhananya, tulisan yang sedang saya buat sekarang ini juga merupakan buah dari obsesi saya.
Coki Pardede? Jelas karena saya sangat menikmati sekali komedi dan dunia entertainment.
Mungkin teman-teman bisa menerka-nerka, apa obsesi saya yang miliki sehingga membuat saya mengidolakan Aldi Taher. Hahaha.
Setidaknya, bagi saya, membatasi diri dalam mengidolakan seseorang karena obsesi saya atas sesuatu, membuat saya bisa membatasi diri. Tidak menelan mentah-mentah seluruh bagian dari kehidupan seseorang tersebut.
Dengan begitu, narasi-narasi dogmatik pun seharusnya mulai bisa kita filter, apakah itu baik bagi kita atau tidak.
Oh iya, balik lagi. Kira-kira menurut kalian, kenapa jika ditanya idola, dan jawabannya Rasulullah SAW seringkali terdengar membosankan?
Apakah mungkin obsesi kita terhadap sesuatu itu terlalu berlebihan? Atau emang kita gak tau (atau pura-pura sok tau) banyak tentang kehidupan Rasulullah SAW?